GEMPA, KEKITAAN KITA, DAN IKHTIAR MEWUJUDKAN NTB TANGGUH

  • Posted on: 14 June 2019
  • By: Admin

(Arah dan energi baru, pasca bencana)

Oleh:
H. Ahsanul Khalik, M.H.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB

 

Wajah-wajah pias-pucat seakan ingin menceritakan beratnya cobaan, ketakutan, dus kekhawatiran yang dalam. Ratusan nyawa mati tertimbun reruntuhan bangunan, ribuan orang terluka, ratusan ribu rumah hancur, hampir semua penduduk Pulau Lombok menjadikan bumi sebagai alasnya dan langit adalah atapnya. Malam begitu pekat mencekam, siang hanya tertunduk lemah dan lesu. Dingin membisu... Lolongan anjing liar menambah kebisuan yang menyayat... Lindu... Lindu... Gempa... Gempa... Semua berhamburan berlarian tanpa arah... Bukit-bukit yang agak tinggi, persawahan kosong, lapangan, ruas-ruas jalan-gang adalah tempat yang paling aman untuk menyelamatkan diri. Issue tsunami, tafsir gempa menambah kepiluan dan kelelahan... Semua berzikir... Beristighfar, mengingat-ingat dosa... Oh... Tuhan...Ya Rabb... Ampuni kami... Tolong kami... Lafal-sabda suci berkumandang seiring tubrukan bumi berguncang, tembok-tembok rumah saling memisahkan diri, suara patahan kayu yang bergeser posisi, suara-suara pagar rumah bergema, teriakan-histeria sahut-menyahut... Hari Ahad selalu menebar aroma ketakutan... Ia seakan hari lonceng kematian itu ditabuh... Dalam kegelapan malam, Ruas-ruas jalan dipenuhi oleh klakson suar mobil dan motor yang berlari menyelamatkan diri: menjauh dari bibir pantai... Inikah pertanda kiamat, inikah kutukan atas dosa-dosa? Gelombang tanya seiring datangnya gelombang gempa yang nyaris tak berkesudahan... Anak mencari ibunya, ayahnya... Mencari kakaknya, mencari tetangganya, mencari keluarganya. Mencari...?

Bahan-bahan kebutuhan pokok menjadi sangat langka dan susah didapatkan, air berwarna keruh dan berlumut, pohon bertumbangan di mana-mana, tanah longsor juga terjadi di banyak tempat, debu-debu beterbangan liar, bau bangkai hewan menyengat, hari demi hari menjadi luarbiasa berat yang diselimuti ketakutan yang dalam, ancaman maut terasa begitu sangat dekat sekali, pekikan teriakan kepanikan mengisahkan kegundahan, kehancuran terjadi di mana-mana... Pulau Lombok menjadi kota mati yang terhimpit kekalutan yang luar biasa... Wahai anak zaman... Gambaran ini belumlah mewakili “pesta” ketakutan kami... Tidak sama sekali... Kisah ini hanya sedikit saja mewariskan cerita kami...

Gempa bermula pada hijratun-Nabiy Shalla-Lahu ‘alaihi wa Salam tarikh 16 Dzulkaidah sanah 1439 hijriah bertepatan dengan tanggal 29 Juli 2018 pukul 06:47:38 WITA, seusai umat Islam baru saja melaksanakan solat Subuh dengan kekuatan 6.4 scala richter. Guncangan gempa bumi ini diwartakan dirasakan di daerah Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, dan Sumbawa Besar. Gempa ini telah menghancurkan sebagai dari Lombok Utara dan Lombok Timur, khususnya di daerah sekitara lereng Gunung Rinjani. Selanjutnya, pada hijratun-Nabiy Shalla-Lahu ‘alaihi wa Salam tarikh 23 Dzulkaidah sanah 1439 hijriah bertepatan dengan tanggal 05 Agustus 2018 pukul 19:46:35 WITA dengan kekuatan 7.0. scala richter dan dirasakan di hampir seluruh Pulau Lombok ketika umat Islam sedang melaksanakan solat Isya’. Gempa susulan setelah gempa bumi utama tanggal 05 Agustus 2018 adalah gempa bumi pada hijratun-Nabiy Shalla-Lahu ‘alaihi wa Salam tarikh 26 Dzulkaidah sanah 1439 hijriah bertepatan dengan tanggal 09 Agustus 2018 pukul 13:25:33 WITA dengan kekuatan 5.9. scala richter di mana guncangan gempa bumi ini dirasakan di daerah Lombok Utara, Mataram, dan Sumbawa. Gempa berikutnya pada hijratun-Nabiy Shalla-Lahu ‘alaihi wa Salam tarikh 07 Dzulhijjah sanah 1439 hijriah bertepatan dengan tanggal 19 Agustus 2018 terdapat 2 gempa bumi susulan signifikan akibat gempa bumi utama tanggal 05 Agustus 2018: pertama gempa bumi yang terjadi pukul 12:06:13 WITA dengan kekuatan 5.4. scala richter dan gempa bumi kedua yang terjadi pukul 12:10:22 WITA dengan kekuatan 6.3. scala richter. Gempa besarnya adalah gempa yang terjadi pada pukul 22:56:27 WITA dengan kekuatan 6.9. scala richter yang merupakan main schock (gempa baru) yang terpisah dari gempa pada tanggal 05 Agustus. Guncangan gempa bumi ini dilaporkan telah dirasakan di Lombok Utara, Mataram, Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur, Bima, dan Sumbawa Besar, bahkan dirasakan juga di Denpasar dan Waingapu.

Gempa yang terlalu-talu tersebut telah meluluhlantakkan KLU, nyaris tak ada bangunan yang berdiri utuh. Semua tersapu bersih oleh gulungan gempa yang datang bertubi-tubi. Lombok Timur pun tak kurang parahnya, Lombok Barat, Lombok Tengah, juga Mataram, dan sebagian daerah KSB. Lahan-lahan kosong semisal halaman sekolah, lapangan, hamparan persawahan, punggung jalan, dan lain sebagainya penuh dengan serakan pengungsi. KLU sebagai daerah yang terpapar gempa paling parah, dan daerah lain yang tingkat keparahannya sama, nyaris tanpa aktivitas yang hidup, semua layanan publik tutup, roda perekonomian lumpuh, nyaris tidak ada aktivitas selain memasang kewaspadaan terhadap gempa yang sewaktu-waktu datang tanpa peringatan. Di tengah kelumpuhan tersebut, hampir semua kebutuhan makan minum dan lain sebagainya dipasok oleh saudara-saudara mereka dari daerah lain yang sejatinya mereka juga terpapar gempa sekalipun tidak separah KLU. Iringan bantuan berdatangan tanpa henti. Posko-posko bantuan berdiri tanpa komando, dapur-dapur umum secara sukarela mendrop kebutuhan makan minum saudara mereka yang terdapat gempa. Menyasar daerah-daerah terpencil, tak peduli dengan aral bahaya tanah longsor, jarak yang jauh, medan yang berat, gempa yang sewaktu-waktu mengagetkan: semuanya menjadi indah oleh karena keniscayaan untuk menyelamatkan saudara mereka yang terpintas bencana. Tak peduli suku, agama, ras, dan pelbagai perbedaan yang menyekat. Semuanya hadir atas nama kemanusiaan dan kepedulian atas sesama.

Dari seberang, tepatnya Pulau Sumbawa, Tau Samawa dan Dou Mbojo merasakan derita dan keprihatinan yang sama. Bertruk-truk bantuan mengalir tanpa henti, pasar-pasar, sekolah-sekolah, kantor-kantor, dan lain sebagainya bergerak secara simultan menggalang bantuan demi saudara mereka di Lombok. Di ujung daerah lain, Indonesia bergerak. Lombok memanggil Indonesia, duka Lombok juga duka Sumbawa telah menggerakkan hati, kaki, tangan, pikiran seluruh masyarakat Indonesia. Semua merasakan keterpanggilan yang luar biasa, merasakan bahwa duka ini adalah luka bagi mereka, keperihan ini juga menyayat mereka. Layanan-layanan penitipan digratiskan baik oleh yang dimiliki oleh pemerintah seperti kantor pos maupun swasta. Tak hanya bentuk materi kebutuhan masyarakat terpapar gempa yang mereka berikan, tapi secara fisik pun mereka datang membantu-melayani warga NTB yang terpapar bencana. Indonesia hadir dalam harunya kebersamaan yang indah serta menyatukan.

Menyusuri jalan mengantar bantuan itu tak mudah. Para pejuang kemanusiaan tersebut harus menempuh perjalanan yang tak mudah: macet berjam-jam karena ruas jalan dipenuhi dengan lalu-lalang warga yang menyebar bantuan. Jarak tempuh yang semula bisa ditempuh dalam hitungan satu jam dua jam harus dalam waktu 6 jam dan atau kisaran 10-12 jam untuk satu kali pengantaran/distribusi bantuan dan sirkulasi demikian hampir tiap hari dilakukan baik oleh pribadi-pribadi maupun komunitas. Pun mereka harus dihadiahi pula dengan debu-debu bekas bangunan runtuh di mana-mana, asap kendaraan, gempa yang sewaktu-waktu menebar teror kekhawatiran, tanah longsor dan sempit jalan, area terpencil, dan lain sebagainya. Tapi medan areal yang demikian bukan halangan bagi mereka untuk terlibat dalam misi kemanusiaan. “Senyum mereka” sudah cukup menjadi ‘bayaran’ atas kelelahan mereka, sudah cukup menggantikan kami yang berpayah-payah”, demikian cerita para relawan dalam duka dan wajah yang penat.

***

Kita meyakini bahwa musibah berupa gempa kemarin adalah ujian moralitas, juga ujian kebersamaan dan kekitaan kita dalam bingkai ke-NTB-an dan juga ke Indonesiaan. Dan ujian ini telah kita tempuh bersama dan nampaknya kita mesti sepakat bahwa kita berhasil keluar sebagai pemenang. Lulus dalam ujian moralitas oleh karena sejak awal musibah itu terjadi sampai dengan hari ini, kita tidak pernah sekalipun mendengar ada kasus penjarahan terhadap distribusi bantuan, baik yang dilakukan oleh individu, kelompok-komunitas, dan atau swasta maupun pemerintah, pun kita juga belum pernah mendengar ada kasus perampokan dan atau pencurian atas harta benda masyarakat terpapar gempa, harga-harga kebutuhan pokok pun cukup terkontrol dan stabil. Kami yang kebetulan saat itu langsung di lapangan berhubungan dengan banyak NGO, relawan dan kelompok misi kemanusiaan dari berbagai daerah, dalam kapasitas sebagai pelayan di salah satu OPD seringkali mendapatkan kesan yang bagus, para relawan dari berbagai daerah mengatakan, “Orang NTB keren Pak, manut dan mau mendengar serta santun sekali. Jadi, kami merasa nyaman sekali untuk bekerja.”

Kita patut berbangga bahwa musibah tersebut jauh dari tindakan-tindakan kriminal, moralitas masih terjaga dari tindakan-tindakan yang tidak bertanggungjawab, pun dalam situasi yang berat demikian, masyarakat terpapar gempa masih memikirkan untuk mengulurkan bantuan untuk yang lain. Memang penanganan gempa dan atau bencana tidaklah sempurna karena luasnya cakupan wilayah yang terpapar gempa. Kekurangan selalu ada, kita akui itu. Itu wajar. Karena kita bukan Tuhan. Bukankah tanda manusianya kita adalah karena adanya kekurangan dan kelemahan? Walakin, kita semua tentunya telah mengikhtiarkan yang terbaik atas nama kemanusiaan dan persaudaraan.

Kita tidak tahun kapan bahala dan petaka itu datang. Ia tamu tak diundang yang selalu menebar teror ketakutan. Karenanya, tugas kita sekarang adalah belajar dan mengarifinya dengan melakukan mapping plan manajemen bencana (disaster management) agar bencanan apapun yang terjadi, kita tidak panik serta gagap. Dasar itulah, kami sedang menyusun kitab babon (buku) kebencanaan sebagai acuan dalam mengedukasi dan melakukan penyadaran kepada publik agar mawas bencana: perwujudan NTB Tangguh dan makna kehadiran negara. Paling tidak yang urgen adalah mewujudkan statistika kebencanaan yang kita sebut dengan “NTB Satu Data Kebencanaan”, berupa data pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana untuk memudahkan dalam pembuatan dan perumusan berbagai langkah upaya penanggulangan melalui keterpaduan kebijakan dan perencanaan khususnya dalam pengurangan resiko bencana. Selain itu, hal lain yang akan menjadi perhatian adalah penguatan “Desa Tangguh Bencana” di mana desa diberikan pelatihan, sarana prasarana kesiap-siagaan bencana yang dilengkapi dengan pemahaman terhadap langkah-langkah menghadapi bencana. Ketangguhan desa menghadapi bencana ini akan sangat bermanfaat dalam evakuasi dan penyelamatan korban bencana tanpa perlu menunggu dari BPBD atau Basarnas, masyarakat sudah dapat melakukan evakuasi dan penyelamatan sendiri.

Selanjutnya, “penguatan koordinasi dan komunikasi” antar-pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah provinsi yang didukung oleh pelaksanaan tanggungjawab semua perangkat daerah yang sejalan dengan berbagai pihak lainnya di luar unsur pemerintahan. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah mewujudkan perencanaan tata ruang daerah yang tangguh bencana, di mana lokasi-lokasi yang rawan bencana harus bebas dari bangunan dan menjadi ruang terbuka hijau. Dan kata kuncinya adalah bagaimana kita memberikan bekal kepada masyarakat harus lebih siap dan sigap saat bencana tiba, masyarakat tahu apa yang harus dilakukan, ke mana harus melakukan  evakuasi, bagaimana bertahan hidup, bangkit memulihkan kehidupan, dan membenahi lingkungan pasca bencana.

NTB Tangguh, Yes… NTB Bangkit, Harus…!!!

Artikel ini masuk dalam kategori :