Klarifikasi terkait Berita Potensi Gempa 9 SR di Lombok Selatan

  • Posted on: 6 July 2019
  • By: Admin

Beberapa hari terakhir beredar berita tentang isu gempa berkekuatan 9 Skala Richter yang akan mengguncang pulau lombok dan mennyebabkan tsunami khususnya di daerah lombok selatan. Berita ini sontak membuat beberapa masyarakat yang masih mengalami trauma akan kejadian gempa setahun yang lalu panik. Beberapa dari mereka malah mulai membangun kembali tenda guna berjaga-jaga bila sewaktu-waktu gempa kembali datang. Setelah diselidiki, informasi ini bersumber dari salah tanggapnya masyarakat terkait hasil penelitian tentang potensi gempa bermagnitude 9 SR yang merupakan skenario megathrust jawa yang dilakukan baru-baru ini.

Pada kurun waktu 28 juni hingga 5 juli 2019, tim peneliti dari Brigham Young University (BYU) bersama Universitas Pembangunan Negeri (UPN) "Veteran" Yogyakarta yang terdiri atas 15 orang pakar di bidang Geologi dan Teknik Sipil melakukan studi paleotsunami dan prakiraan potensi gempabumi menggunakan metode pendekatan MCASW (Multi Channel Analysis Surface Wave). Selain di Lombok, studi juga dilakukan di Bali, Pacitan, Yogyakarta dan Pangandaran. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya potensi gempa bermagnitudo 9 yang dapat terjadi di utara lombok, sedangkan bagian selatan lombok termasuk dalam kategori terburuk bila terjadi skenario megathrust di lempeng jawa. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh pusat kegempaan nasional dalam pemetaan gempa di NTB mendapatkan hasil bahwa ada potensi gempa berkekuatan 8,5 SR untuk "Seismic Gap" dari megathrust selatan selat sunda. 

Hasil penelitian ini kemudian disalahtafsirkan oleh masyarakat yang menganggap bahwa dalam waktu dekat gempa berkekuatan 8,5 hingga 9 SR dapat mengguncang lombok. Padahal dari keterangan yang diberikan oleh peneliti BYU, didapati bahwa hal itu merupakan potensi gempa, dimana memang ada kekuatan sebesar 8,5 hingga 9 SR bila terjadi megathrust namun tidak dapat dipastikan kapan akan terjadi. Hal ini senada dengan keterangan Kepala BMKG Mataram dalam seminar manajemen kebencanaan di Mataram pada Kamis, 4 Juli lalu. Beliau menjelaskan,"Kapan waktunya, tidak ada yang tahu. Bahkan teknologi secanggih apapun tidak bisa memprediksi dan mengetahui kapan akan terjadi gempa itu". Kepala peneliti dari BYU pun menanggapi berita yang beredar di masyarakat sebagai sebuah keterangan yang tidak berimbang. Beliau memberikan keterangan bahwa Informasi yang ditulis dalam media massa lokal beberapa waktu yang lalu tidak berimbang dan tidak memberikan keterangan secara menyeluruh. Oleh karena itu akan dilakukan pembicaraan lebih lanjut dengan pihak pemerintah terkait pelatihan jurnalistik untuk para jurnalis lokal dalam hal komunikasi kebencanaan dengan maksud untuk menghindari kesalahan penafsiran berita dan informasi ke depannya seperti halnya berita terkait potensi gempa 9 SR yang menimpa Lombok ini.

Sumber: "Hasil Penelitian BYU tentang Paleotsunami di NTB tahun 2019", "Tirto.id", "gatra.id"

Artikel ini masuk dalam kategori :