SUTOPO PURWO NUGROHO, PAHLAWAN BENCANA ITU TELAH PERGI

  • Posted on: 7 July 2019
  • By: Admin

Oleh: H. Ahsanul Khalik, S.Sos., MH.
Kepala Pelaksana BPBD NTB

Kabar duka datang dari Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho. Pria 49 tahun itu meninggal dunia di Guangzhou, China pada Minggu (7/7/2019) dinihari WIB. Pak Sutopo tutup usia pada pukul 02.00 waktu Guangzhou.

Kabar meninggalnya Pak Sutopo diungkap Direktorat Pengurangan Risiko Bencana (PRB) BNPB via Twitter. “Telah meninggal dunia Bapak @Sutopo_PN, Minggu, 07 July 2019, sekitar pukul 02.00 waktu Guangzhou/pukul 01.00 WIB. Mohon doanya untuk beliau,” kicau Direktorat PRB. Penyakit paru-paru mengakhiri hidup Sutopo pada usia 49 tahun. Kematian Sutopo yang mengabdi di Badan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak tahun 2010, membuat kita semua sedih dan kehilangan. Wajar kita semua merasakan kehilangan karena Pak Sutopo selalu menjadi sumber berita utama untuk menjelaskan tentang suasana terkini tentang kebencanaan di Indonesia.

Tak peduli dengan kanker paru-paru yang dideritanya, Sutopo tetap berjibaku melawan sakitnya untuk menyampaikan informasi bencana secara terus menerus. Penjelasannya yang lengkap dan terperinci mengenai bencana dengan bahasa yang gampang, gamblang, dan mudah dimengerti telah membantu masyarakat untuk memahami apa yang berkaitan dengan bencana yang sedang terjadi. Sampai pada waktunya, ia harus mengalah dengan penyakit yang menggerogotinya dengan mengupayakan pengobatan ke Guangzhou, Cina.

Sebelum pergi berobat ke Guangzhou pada 15 Juni, lewat akun instagram pribadinya, Sutopo yang dikenal dengan wartawan ini menyampaikan, “Hari ini saya ke Guangzhou untuk berobat dari kanker paru yang telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh lain. Kondisinya sangat menyakitkan sekali. Saya mohon doa restu kepada semua netizen dan lainnya.” Masih dalam unggahan yang sama, ia masih menyempatkan diri meminta maaf apabila nantinya tak dapat mengabarkan info bencana seperti biasanya. “Saya mohon doa restu kepada semua netizen dan lainnya. Jika ada kesalahan mohon dimaafkan. Sekaligus saya dimaafkan atas kesalahan dan dosa. Saya di Guangzhou selama 1 bulan. Maaf jika tidak bisa menyampaikan info bencana dengan cepat. Mohon maaf ya”.

***

 

Sutopo Puwo Nugroho lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 7 Oktober 1969. Ia merupakan anak pertama Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari.SD, SMP, dan SMA-nya itu ia jalani di kampung halamannya. Ia memperoleh gelar S-1 geografi di Universitas Gadjah Mada pada 1993, dan ia menjadi lulusan terbaik di sana pada tahun itu. Ia memeroleh gelar S2 dan S3 di bidang hidrologi di Institut Pertanian Bogor.

Pada 17 Januari 2018, Sutopo mengumumkan bahwa ia mengidap kanker paru-paru stadium IV dan masih berada di bawah tahap perawatan. Keluarga dan dokternya telah memintanya untuk berhenti beraktivitas, namun ia menolak, meskipun sakit. Karenanya ia juga terpaksa mengonsumsi morfin. Ia juga masih tetap bersemangat dan tak pernah surut.  Dalam suatu wawancara, Sutopo sempat mengaku hatinya hancur ketika dokter memvonisnya mengidap kanker paru-paru stadium 4B, tapi komitmen dan loyalitasnya untuk orang banyak telah mengalahkan kekhawatirannya. “Hidup bukan soal panjang pendeknya usia. Tapi seberapa besar kita dapat membantu orang lain,” katanya suatu ketika.

terlepas dari soal vonis kanker yang menghinggapi Sutopo, di kala bencana datang tiba-tiba di tengah malam, dia pun dengan sigap menyebar informasi yang lengkap kepada wartawan lewat grup WhatsApp media yang dibentuknya.  Bahkan, pernah pula di saat kondisinya kian memburuk, Sutopo tetap nekat menggelar jumpa pers. Padahal, beberapa jam sebelumnya, Sutopo harus dipasang infus di rumah sakit. “Saya tahan sakit itu. Rasa nyeri di tubuh saya lawan. Saya harus terus menyampaikan informasi bencana ke media dan masyarakat,” ujarnya sembari berusaha menahan rasa sakit dan nyeri yang menyerang seluruh tubuhnya.

Di tengah gencarnya hoax tak bertanggungjawab serta minimnya pengetahuan awam soal kebencanaan, Sutopo adalah suara yang paling kredibel dan dapat dipercaya dalam penyebaran informasi terkait dengan bencana alam di Indonesia. Tak heran kemudian ia sangat aktif membagikan berbagai informasi sekecil apapun terkait kebencanaan.

Kita, warga NTB, khususnya masyarakat Lombok-Sumbawa yang terpapar gempa bumi sangat kehilangan serta berbelasungkawa dengan ‘kepergiannya’ Sutopo. Beritanya yang bernas dan terbarukan selalu ditunggu kehadirannya. Suaranya adalah representasi kehadiran negara, juga janji pemerintah.

“….Yang utama adalah penanganan terhadap dampak korban bencana. Potensi nasional masih mampu mengatasi penanganan darurat bahkan sampai rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana nanti. Tanpa ada status bencana nasional pun penanganan bencana saat ini skalanya sudah nasional. Pemerintah pusat terus mendampingi dan memperkuat Pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Perkuatan itu adalah bantuan anggaran, pengerahan personil, bantuan logistik dan peralatan, manajerial dan tertib administrasi. Dana cadangan penanggulangan bencana sebesar Rp 4 triliun yang ada di Kementerian Keuangan dengan pengguna oleh BNPB siap dikucurkan sesuai kebutuhan. Jika kurang, Pemerintah siap akan menambahkan dengan dibahas bersama DPR RI. Kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa Lombok diperkirakan lebih dari Rp. 7 triliun juga akan dianggarkan oleh Pemerintah Pusat. Bahkan Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden tentang percepatan penangan dampak gempa Lombok. Pemerintah pusat total memberikan dukungan penuh bantuan kepada pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, kota dan tentu saja yang paling penting kepada masyarakat. Dalam penanganan bencana, apalagi urusan bencana sudah menjadi urusan wajib bagi pemerintah daerah maka kepala daerah adalah penanggung jawab utama penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerahnya. “Pemerintah pusat hadir memberikan pendampingan atau penguatan secara penuh”, dalam sebuah press release yang disampaikannya pada tanggal 20 Agustus 2018 untuk menjawab kerisauan masyarakat seputar penanganan gempa beberapa waktu lalu.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… Kullu nafsin dza’iqatul mawt (Setiap yang bernyawa pada akhirnya akan merasakan kematian). Doa-doa tulus akan terus mengalir dari masyarakat Indonesia, khususnya dari kami masyarakat NTB yang telah merasakan loyalitas pengabdianmu yang luar biasa. Semoga dedikasimu akan menjadi amal soleh yang akan melapangkan kuburanmu… Amin… Allahumma amin…

Artikel ini masuk dalam kategori :