Sepanjang periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menghadapi dinamika kebencanaan yang cukup intens. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, tercatat total 578 kejadian bencana yang melanda wilayah ini. Angka ini mencakup berbagai spektrum kejadian, mulai dari bencana alam hidrometeorologi, fenomena geologi, hingga bencana sosial dan non-alam yang berdampak signifikan bagi masyarakat.

Dari sisi jenis kejadian, Kebakaran Pemukiman mendominasi statistik dengan angka yang sangat mencolok, yakni mencapai 373 kejadian. Sementara itu, bencana alam yang paling sering terjadi adalah Banjir/Banjir Bandang/Rob sebanyak 104 kejadian, diikuti oleh Cuaca Ekstrem (62 kejadian) dan Tanah Longsor (15 kejadian). Meskipun wilayah NTB dikenal rawan gempa, tahun 2025 mencatat kejadian Gempa Bumi yang berdampak minim secara kuantitas, yakni hanya 2 kejadian, setara dengan kejadian Gelombang Pasang dan Epidemi/Wabah Penyakit. Selain itu, tercatat pula 9 kejadian kekeringan yang melanda berbagai Kabupaten/Kota serta 1 kasus konflik sosial.

Secara geografis, sebaran bencana tidak merata di seluruh wilayah NTB. Kabupaten Lombok Timur menjadi wilayah dengan frekuensi kejadian tertinggi, mencatatkan 136 kejadian, disusul oleh Lombok Tengah dengan 115 kejadian. Di Pulau Sumbawa, Kabupaten Bima mencatat angka tertinggi dengan 84 kejadian, sementara wilayah lainnya seperti Lombok Barat (83), Mataram (49), dan Sumbawa (31) juga tidak luput dari ancaman bencana. Wilayah dengan frekuensi terendah tercatat di Kabupaten Dompu dengan 16 kejadian.

Dampak yang ditimbulkan oleh rangkaian peristiwa ini cukup masif. Sebanyak 172.783 jiwa terdampak, dengan catatan korban jiwa sebanyak 17 orang meninggal dunia, 6 orang hilang, dan 51 orang mengalami luka-luka. Kerusakan infrastruktur perumahan menjadi sorotan utama, di mana 44.499 rumah terendam banjir, dan 942 rumah mengalami kerusakan fisik (326 rusak berat, 258 sedang, dan 358 ringan). Sektor pelayanan dasar pun terdampak dengan total 81 fasilitas pendidikan, 32 perkantoran, dan 22 fasilitas peribadatan.

Selain dampak fisik dan kemanusiaan, sektor ekonomi dan pertanian juga mengalami kerugian yang tidak sedikit. Tercatat 928 Hektare sawah, 182 Hektare tambak/kolam, dan 50 Hektare kebun terdampak bencana, yang tentunya mempengaruhi ketahanan pangan lokal. Infrastruktur vital seperti jembatan (26 unit) dan jaringan irigasi (547 meter) juga mengalami kerusakan. Data kaleidoskop ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan masyarakat NTB untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi bencana di masa depan, dengan dukungan layanan cepat tanggap melalui Call Center 117 dan melalui pelaporan kejadian bencana melalui media sosial dan Sistem Informasi Kebencanaan (SIK) Siaga NTB.


#SiapUntukSelamat
#KitaJagaAlamJagaKita
#SalamTangguh
#SalamKemanusiaan
#BudayaSadarBencana
#KenaliAncamannya
#KurangiRisikonya
#NTBTangguh
#NTBmakmurmendunia

Pusdalops-PB BPBD NTB